BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan hak bagi setiap anak, termasuk peserta didik berkebutuhan khusus. Untuk mewujudkan hal tersebut, pemerintah menyediakan satuan pendidikan khusus seperti Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) dan Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB) yang memberikan layanan pendidikan sesuai dengan kemampuan dan karakteristik siswa. Salah satu faktor penting dalam menunjang keberhasilan proses belajar mengajar di sekolah luar biasa adalah ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai.
Sarana dan prasarana
memiliki peran penting dalam mendukung kegiatan belajar mengajar agar
berlangsung efektif, aman, dan nyaman. Dalam konteks SDLB/SMALB, standar sarana
dan prasarana harus disesuaikan dengan jenis kebutuhan peserta didik, baik
tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, maupun autis. Pemerintah telah
menetapkan ketentuan mengenai hal ini melalui Permendiknas Nomor 33 Tahun 2008
yang mengatur tentang standar sarana dan prasarana sekolah luar biasa.
Namun, dalam penerapannya masih terdapat berbagai kendala, seperti keterbatasan fasilitas khusus, anggaran yang tidak mencukupi, dan kurangnya pemeliharaan terhadap sarana yang ada. Kondisi ini menyebabkan pemenuhan standar sarana dan prasarana di SDLB/SMALB belum berjalan optimal. Oleh karena itu, perlu adanya pemahaman lebih lanjut mengenai konsep standar sarana dan prasarana, komponen atau jenis standar yang berlaku, serta penerapan dan kendala yang dihadapi dalam pemenuhannya agar mutu pendidikan bagi peserta didik berkebutuhan khusus dapat terus ditingkatkan.
B. Rumusan Masalah
1.
Apa yang
dimaksud dengan konsep standar sarana dan prasarana pada SDLB/SMALB?
2.
Apa saja standar
sarana dan prasarana untuk SDLB/SMALB?
3.
Apa saja kendala
yang di hadapi dalam pemenuhan standar sarana dan prasarana di SDLB/SMALB?
C. Tujuan Masalah
1.
Untuk mengetahui
konsep standar sarana dan prasarana pada SDLB/SMALB.
2.
Untuk mengetahui
standar sarana dan prasarana untuk SDLB/SMALB.
3. Untuk mengetahui kendala yang dihadapi dalam pemenuhan standar sarana dan prasarana di SDLB/SMALB.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Konsep
Standar Sarana dan Prasarana pada SDLB/SMALB
Standar sarana dan prasarana merupakan salah satu
dari delapan Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang berfungsi sebagai pedoman
dalam penyediaan fasilitas untuk mendukung proses belajar mengajar.[1]
Menurut Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2008 yang dikutip oleh Undang Ruslan
Wahyudin, sarana adalah perlengkapan pembelajaran yang dapat berpindah-pindah.
Sementara prasarana adalah fasilitas dasar yang diperlukan untuk menjalankan fungsi
SDLB/SMALB.[2]
Hal ini menunjukkan bahwa sarana dan prasarana
memiliki fungsi penting sebagai penunjang utama kegiatan belajar di sekolah
luar biasa. Ketersediaan sarana yang lengkap serta prasarana yang layak akan
membantu guru dalam melaksanakan proses pembelajaran secara efektif dan
efisien. Selain itu, lingkungan belajar yang didukung oleh fasilitas yang
memadai juga dapat meningkatkan semangat belajar peserta didik serta membantu
mereka mengembangkan potensi secara optimal.
SDLB atau Sekolah Dasar Luar Biasa merupakan satuan
pendidikan yang diperuntukkan bagi peserta didik berkebutuhan khusus pada
jenjang pendidikan dasar. Sementara itu, SMALB atau Sekolah Menengah Atas Luar
Biasa adalah jenjang lanjutan yang memberikan layanan pendidikan bagi siswa
berkebutuhan khusus di tingkat menengah atas.[3]
Kedua lembaga ini bertujuan memberikan kesempatan yang sama bagi semua anak
untuk memperoleh pendidikan yang layak sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan
mereka.
Nilai kesetaraan dan keadilan dalam pendidikan ini
sejalan dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya ilmu bagi setiap
manusia. Sebagaimana dalam Surah Al-Mujadalah ayat 11:[4]
يَـٰٓأَيُّهَا
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قِيلَ لَكُمْ
تَفَسَّحُوا۟ فِى ٱلْمَجَـٰلِسِ فَٱفْسَحُوا۟ يَفْسَحِ ٱللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ
ٱنشُزُوا۟ فَٱنشُزُوا۟ يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ
أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَـٰتٍۢ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌۭ ١١
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman,
apabila dikatakan kepadamu “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,”
lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan,
“Berdirilah,” (kamu) berdirilah. Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang
beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah
Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Mujadalah: 11)
Ayat tersebut mengandung makna bahwa setiap individu, tanpa memandang
kondisi fisik maupun keterbatasannya, memiliki hak yang sama untuk memperoleh
pendidikan dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, pendidikan bagi
peserta didik berkebutuhan khusus merupakan wujud nyata dari nilai keadilan dan
kasih sayang dalam Islam.
Dalam konteks Sekolah Luar Biasa (SDLB/SMALB),
konsep standar sarana dan prasarana disesuaikan dengan karakteristik dan
kebutuhan peserta didik berkebutuhan khusus.[5] SDLB/SMALB
melayani siswa dengan berbagai ketunaan. Terdapat lima jenis ketunaan menurut
Nunung Nuryati sebagaimana diatur juga dalam Permendiknas Nomor 33 Tahun 2008,
yaitu (1) tunanetra, (2) tunarungu, (3) tunagrahita, (4) tunadaksa, dan (5)
tunalaras. Oleh karena itu, sarana dan prasarana yang disediakan tidak bisa
disamakan dengan sekolah reguler, melainkan harus bersifat aksesibel, adaptif,
dan fungsional agar semua siswa dapat belajar dengan nyaman dan aman.[6]
Tujuan utama dari adanya standar sarana dan
prasarana di SDLB/SMALB adalah untuk memastikan bahwa setiap peserta didik,
tanpa memandang keterbatasannya, mendapatkan layanan pendidikan yang bermutu,
aman, dan inklusif. Sekolah luar biasa juga harus mampu menyediakan lingkungan
belajar yang memotivasi siswa untuk mandiri, berinteraksi, dan mengembangkan
potensi dirinya secara optimal.[7]
Dari keseluruhan konsep tersebut, dapat disimpulkan
bahwa standar sarana dan prasarana SDLB/SMALB bukan sekadar memenuhi aspek
fisik, tetapi juga harus memperhatikan aksesibilitas, kenyamanan, keamanan,
serta relevansi dengan kebutuhan peserta didik berkebutuhan khusus. Dengan kata
lain, keberadaan sarana dan prasarana di sekolah luar biasa menjadi faktor
penting dalam mewujudkan pendidikan yang adil dan berkualitas bagi semua.
B.
Standar
Sarana dan Prasarana untuk SDLB/SMALB
Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 33 Tahun 2008 tentang Standar Sarana dan Prasarana untuk SDLB/SMALB, meliputi:[8]
1.
Lahan
Lahan adalah
bidang permukaan tanah yang di atasnya terdapat prasarana SDLB/SMALB meliputi bangunan,
lahan praktik, lahan untuk prasarana penunjang, dan lahan pertamanan.
a.
Lahan SDLB
memenuhi ketentuan luas lahan minimum seperti tercantum pada tabel berikut.
|
No |
Banyak
rombongan belajar |
Jenis
ketunaan |
Luas
lahan minimum (m2) |
|
|
Bangunan
satu lantai |
Bangunan
dua lantai |
|||
|
1 |
6 |
1 |
1170 |
640 |
|
2 |
12 |
1-2 |
1700 |
900 |
|
3 |
18 |
1-3 |
2200 |
1150 |
|
4 |
24 |
1-4 |
2670 |
1390 |
b. Lahan SMALB memenuhi ketentuan luas lahan minimum
seperti tercantum pada tabel berikut.
|
No |
Banyak
rombongan belajar |
Jenis
ketunaan |
Luas
lahan minimum (m2) |
|
|
Bangunan
satu lantai |
Bangunan
dua lantai |
|||
|
1 |
3 |
1 |
1070 |
590 |
|
2 |
6 |
1-2 |
1240 |
670 |
|
3 |
9 |
1-3 |
1440 |
770 |
|
4 |
12 |
1-4 |
1640 |
870 |
2.
Bangunan
Bangunan adalah
gedung yang digunakan untuk menjalankan fungsi SDLB/SMALB.
a.
Bangunan SDLB
memenuhi ketentuan luas lantai bangunan minimum seperti tercantum pada tabel
berikut.
|
No |
Banyak
rombongan belajar |
Jenis
ketunaan |
Luas
lantai bangunan minimum (m2) |
|
|
Bangunan
satu lantai |
Bangunan
dua lantai |
|||
|
1 |
6 |
1 |
350 |
380 |
|
2 |
12 |
1-2 |
510 |
540 |
|
3 |
18 |
1-3 |
660 |
690 |
|
4 |
24 |
1-4 |
800 |
830 |
b.
Bangunan SMALB
memenuhi ketentuan luas lantai bangunan minimum seperti tercantum pada tabel
berikut.
|
No |
Banyak
rombongan belajar |
Jenis
ketunaan |
Luas
lantai bangunan minimum (m2) |
|
|
Bangunan
satu lantai |
Bangunan
dua lantai |
|||
|
1 |
3 |
1 |
320 |
350 |
|
2 |
6 |
1-2 |
370 |
400 |
|
3 |
9 |
1-3 |
430 |
460 |
|
4 |
12 |
1-4 |
490 |
520 |
3.
Ruang
Pembelajaran Umum
a.
Ruang Kelas
1)
Fungsi ruang
kelas adalah tempat kegiatan pembelajaran teori dan praktik dengan alat
sederhana yang mudah dihadirkan.
2)
Jumlah minimum
ruang kelas sama dengan banyak rombongan belajar.
3)
Kapasitas
maksimum ruang kelas adalah 5 peserta didik untuk ruang kelas SDLB dan 8
peserta didik untuk ruang kelas SMALB.
4)
Rasio minimum
luas ruang kelas adalah 3 m2/peserta didik. Untuk rombongan belajar
dengan peserta didik kurang dari 5 orang, luas minimum ruang kelas adalah 15 m2.
5)
Lebar minimum
ruang kelas adalah 3 m.
6)
Ruang kelas
memiliki jendela yang memungkinkan pencahayaan yang memadai untuk membaca buku
dan untuk memberikan pandangan ke luar ruangan.
7)
Ruang kelas
memiliki pintu yang memadai agar peserta didik dan guru dapat segera keluar
ruangan jika terjadi bahaya, dan dapat dikunci dengan baik saat tidak
digunakan.
8)
Salah satu
dinding ruang kelas dapat berupa dinding semi permanen agar pada suatu saat dua
ruang kelas yang bersebelahan dapat digabung menjadi satu ruangan.
9)
Ruang kelas dilengkapi sarana sebagaimana
tercantum pada tabel berikut.
|
No |
Jenis |
Rasio |
Deskripsi |
|
1 |
Perabot |
||
|
1.1 |
Kursi peserta didik |
1 buah/peserta
didik |
Kuat, stabil, aman, dan mudah dipindahkan oleh
peserta didik. Ukuran sesuai dengan kelompok usia peserta didik dan mendukung
pembentukan postur tubuh yang baik. Desain dudukan dan sandaran membuat peserta didik nyaman
belajar. |
|
1.2 |
Meja peserta didik |
1 buah/peserta
didik |
Kuat, stabil, aman, dan mudah dipindahkan oleh
peserta didik. Ukuran sesuai dengan kelompok usia peserta didik
dan mendukung pembentukan postur tubuh yang baik. Desain
memungkinkan kaki peserta didik masuk dengan leluasa ke bawah meja. |
|
1.3 |
Kursi guru |
1 buah/guru |
Kuat, stabil, aman, dan mudah dipindahkan. Ukuran
memadai untuk duduk dengan nyaman. |
|
1.4 |
Meja guru |
1 buah/guru |
Kuat, stabil, aman, dan mudah dipindahkan. Ukuran
memadai untuk bekerja dengan nyaman |
|
1.5 |
Lemari |
1 buah/ruang |
Kuat, stabil, dan aman. Ukuran memadai untuk
menyimpan perlengkapan yang diperlukan kelas tersebut. Dapat dikunci. |
|
2 |
Media Pendidikan |
|
|
|
2.1 |
Papan tulis |
1 buah/ruang |
Kuat, stabil, dan aman. Ukuran minimum 90 cm x 200 cm. Ditempatkan
pada posisi yang memungkinkan seluruh peserta didik melihatnya dengan jelas. |
|
2.2 |
Papan pajang |
1 buah/ruang |
Kuat, stabil, dan aman. Ukuran minimum 60 cm x 120
cm. Ditempatkan pada posisi yang mudah diraih peserta didik. Dapat berupa
papan flanel. |
|
3 |
Perlengkapan
lain |
|
|
|
3.1 |
Tempat cuci
tangan |
1 buah/ruang |
|
|
3.2 |
Jam dinding |
1 buah/ruang |
|
|
3.3 |
Kotak kontak |
1 buah/ruang |
|
|
3.4 |
Tempat sampah |
1 buah/ruang |
|
b.
Ruang Perpustakaan
1)
Ruang perpustakaan berfungsi sebagai
tempat kegiatan peserta didik, guru dan orangtua peserta didik memperoleh
informasi dari berbagai jenis bahan pustaka dengan membaca, mengamati dan
mendengar, dan sekaligus tempat petugas mengelola perpustakaan.
2)
Luas minimum ruang perpustakaan adalah 30
m2. Lebar minimum ruang perpustakaan adalah 5 m.
3)
Ruang perpustakaan dilengkapi jendela
untuk memberi pencahayaan yang memadai untuk membaca buku.
4)
Ruang perpustakaan terletak di bagian
sekolah yang mudah dicapai.
5)
Ruang perpustakaan dilengkapi sarana
sebagaimana tercantum pada tabel berikut.
|
No |
Jenis |
Rasio |
Deskripsi |
|
1 |
Buku |
||
|
1.1 |
Buku teks pelajaran |
1 eksemplar/mata pelajaran/peserta
didik, ditambah 2 eksemplar/mata pelajaran/sekolah |
Termasuk dalam daftar buku teks
pelajaran yang ditetapkan oleh Mendiknas dan daftar buku teks muatan lokal
yang ditetapkan oleh Gubernur atau Bupati/Walikota. Jenis terbitan
disesuaikan dengan kondisi ketunaan peserta didik. Untuk tunanetra disediakan
buku Braille, cetak awas diperbesar dan audiobook. |
|
1.2 |
Buku panduan
pendidik |
1 eksemplar/mata pelajaran/guru mata
pelajaran bersangkutan, ditambah 1 eksemplar/mata pelajaran/sekolah |
Kuat, stabil, aman, dan mudah dipindahkan oleh
peserta didik. Ukuran sesuai dengan kelompok usia peserta didik
dan mendukung pembentukan postur tubuh yang baik. Desain
memungkinkan kaki peserta didik masuk dengan leluasa ke bawah meja. |
|
1.3 |
Buku pengayaan |
840 judul/sekolah |
Untuk
SDLB terdiri dari 60% non-fiksi dan 40% fiksi. Untuk SMALB terdiri dari 65%
non-fiksi dan 35% fiksi. Jenis terbitan disesuaikan dengan kondisi ketunaan
peserta didik. Untuk tunanetra disediakan buku Braille, cetak awas diperbesar
dan audiobook. |
|
1.4 |
Buku referensi |
10 judul/sekolah
untuk SDLB dan 30 judul/sekolah untuk SMALB |
Sekurang-kurangnya
meliputi Kamus Besar Bahasa Indonesia, kamus bahasa Inggris, ensiklopedi,
buku statistik daerah, buku telepon, kitab undang undang dan peraturan, dan
kitab suci. Untuk tunarungu meliputi Kamus Sistem Isyarat Bahasa Indonesia
(SIBI). Jenis terbitan disesuaikan dengan kondisi ketunaan peserta didik.
Untuk tunanetra disediakan buku Braille, cetak awas diperbesar dan audiobook. |
|
1.5 |
Sumber belajar
lain |
10 judul/sekolah
untuk SDLB dan 30 judul/sekolah untuk SMALB |
Sekurang-kurangnya
meliputi majalah, surat kabar, globe, peta, gambar pahlawan nasional, CD
pembelajaran, dan alat peraga matematika. Jenis terbitan disesuaikan dengan
kondisi ketunaan peserta didik. Untuk tunanetra disediakan buku Braille,
cetak awas diperbesar dan audiobook. |
|
2 |
Perabot |
|
|
|
2.1 |
Rak buku |
1 set/sekolah |
Kuat,
stabil, dan aman. Dapat menampung seluruh koleksi dengan baik. Memungkinkan
peserta didik menjangkau koleksi buku dengan mudah. |
|
2.2 |
Rak majalah |
1 buah/sekolah |
Kuat,
stabil, dan aman. Dapat menampung seluruh koleksi majalah. Memungkinkan
peserta didik menjangkau koleksi majalah dengan mudah. |
|
2.3 |
Rak surat kabar |
1 buah/sekolah |
Kuat,
stabil, dan aman. Dapat menampung seluruh koleksi suratkabar. Memungkinkan
peserta didik menjangkau koleksi suratkabar dengan mudah. |
|
2.4 |
Meja baca |
10 buah/sekolah |
Kuat,
stabil, aman, dan mudah dipindahkan oleh peserta didik. Desain memungkinkan
kaki peserta didik masuk dengan leluasa ke bawah meja. |
|
2.5 |
Kursi baca |
10 buah/sekolah |
Kuat,
stabil, aman, dan mudah dipindahkan oleh peserta didik. Desain dudukan dan
sandaran membuat peserta didik nyaman belajar. |
|
2.6 |
Kursi kerja |
1 buah/petugas |
Kuat,
stabil, dan aman. Ukuran memadai untuk bekerja dengan nyaman. |
|
2.7 |
Meja kerja/sirkulasi |
1 buah/petugas |
Kuat,
stabil, dan aman. Ukuran memadai untuk bekerja dengan nyaman. |
|
2.8 |
Lemari katalog |
1 buah/sekolah |
Kuat,
stabil, dan aman. Cukup untuk menyimpan kartu-kartu katalog. Lemari katalog
dapat diganti dengan meja untuk menempatkan katalog. |
|
2.9 |
Lemari |
1 buah/sekolah |
Kuat,
stabil, dan aman. Ukuran memadai untuk menampung seluruh peralatan untuk
pengelolaan perpustakaan. Dapat dikunci. |
|
2.10 |
Papan pengumuman |
1 buah/sekolah |
Kuat,
stabil, dan aman. Ukuran minimum 1 m2. |
|
2.11 |
Meja multimedia |
1 buah/sekolah |
Kuat,
stabil, dan aman. Ukuran memadai untuk menampung seluruh peralatan
multimedia. |
|
3 |
Media
Pendidikan |
|
|
|
3.1 |
Peralatan multimedia |
1 set/sekolah |
Sekurang-kurangnya terdiri dari 1 set
komputer (CPU, monitor minimum 15 inci, printer), TV, radio, dan pemutar
VCD/DVD. Khusus untuk SDLB-A dan SMALB-A komputer dilengkapi dengan perangkat
lunak screen reader, screen review, atau text-to-speech,
serta printer Braille. |
|
4 |
Peralatan
Pendidikan |
|
|
|
4.1 |
Papan Braille |
6 buah/sekolah |
|
|
4.2 |
Braille kit |
2 buah/sekolah |
Khusus untuk tunanetra |
|
4.3 |
Reglet dan pena |
10 set/sekolah |
Terbuat dari besi stainles atau plastik dengan sel
4-6 baris dan 27-30 kolom. |
|
4.4 |
Peta timbul |
1 buah/sekolah |
Khusus untuk tunanetra |
|
4.5 |
Abacus |
6 buah/sekolah |
Khusus untuk tunanetra |
|
4.6 |
Magnifier lens set |
2 buah/sekolah |
Khusus untuk tunanetra |
|
4.7 |
Sistem simbol Braille Indonesia |
2 buah/sekolah |
Khusus untuk tunanetra |
|
4.8 |
Papan geometri |
6 buah/sekolah |
Khusus untuk tunanetra |
|
4.9 |
Globe timbul |
1 buah/sekolah |
Khusus untuk tunanetra |
|
5 |
Perlengkapan
Lain |
|
|
|
5.1 |
Buku inventaris |
1 buah/sekolah |
|
|
5.2 |
Kotak kontak |
1 buah/ruang |
|
|
5.3 |
Jam dinding |
1 buah/ruang |
|
|
5.4 |
Tempat sampah |
1 buah/ruang |
|
4.
Ruang
Pembelajaran Khusus
a.
Ruang Orientasi
dan Mobilitas (OM) untuk Tunanetra
1)
Ruang Orientasi dan Mobilitas (OM)
merupakan tempat latihan keterampilan gerak, pembentukan postur tubuh, gaya
jalan dan olahraga, serta dapat berfungsi sebagai ruang serbaguna.
2)
Sekolah yang melayani peserta didik SDLB/SMALB
tunanetra memiliki minimum satu buah ruang OM dengan luas minimum 15 m2.
3)
Ruang OM dilengkapi dengan sarana
sebagaimana tercantum pada tabel berikut.
|
No |
Jenis |
Rasio |
Deskripsi |
|
1 |
Perabot |
||
|
1.1 |
Lemari |
1 buah/sekolah |
Ukuran memadai
untuk menyimpan seluruh peralatan OM. Dapat dikunci. |
|
2 |
Peralatan Pendidikan |
|
|
|
2.1 |
Peralatan OM: |
|
|
|
2.1.1 |
Tongkat panjang dewasa |
10 buah/ruang |
Terbuat dari alumunium, panjang 110 125 cm, pegangan
terbuat dari karet, ujung tongkat terbuat dari plastik, dan mempunyai cruck
untuk melindungi perut. |
|
2.1.1 |
Tongkat panjang ukuran anak-anak |
10 buah/sekolah |
Terbuat dari
alumunium, panjang 110 125 cm, pegangan terbuat dari karet, ujung tongkat
terbuat dari plastik, dan mempunyai cruck untuk melindungi perut. |
|
2.1.3 |
Tongkat lipat |
10 buah/sekolah |
Terbuat dari
aluminum, panjang 110 cm, dapat dilipat, ujung tongkat terbuat dari plastik. |
|
2.1.4 |
Blind fold |
10 buah/sekolah |
Terbuat dari
kain berwarna hitam dan tidak tembus pandang. |
|
2.1.5 |
Kompas bicara |
5 buah/sekolah |
Khusus untuk
tunanetra |
|
2.1.6 |
Stopwatch |
5 buah/sekolah |
Khusus untuk
tunanetra |
|
2.1.7 |
Denah ruang timbul |
1 buah/sekolah |
|
|
2.2 |
Peralatan
Motorik Kasar: |
|
|
|
2.2.1 |
Alat
keseimbangan badan |
1 set/sekolah |
|
|
2.2.2 |
Matras |
1 buah/sekolah |
|
|
2.3 |
Alat
Bantu Auditif |
|
|
|
2.3.1 |
Tape recorder |
1 set/sekolah |
Dapat memutar kaset atau CD. Memiliki
double deck. |
|
2.3.2 |
Alar musik pukul |
1 set/sekolah |
|
|
2.3.3 |
Alat musik
tiup |
6 buah,sekolah |
|
|
2.3.4 |
Alat musik
petik |
2 buah/sekolah |
|
|
2.3.5 |
Alat musik gesek |
2 buah/sekolah |
|
|
3 |
Perlengkapan
Lain |
|
|
|
3.1 |
Kotak kontak |
1 buah/ruang |
|
|
3.2 |
Tempat sampah |
1 buah/ruang |
|
b.
Ruang Bina
Wicara untuk Tunarungu
1)
Ruang Bina Wicara berfungsi sebagai tempat
latihan wicara perseorangan.
2)
Sekolah yang melayani peserta didik SDLB/SMALB
tunarungu memiliki minimum satu buah ruang Bina Wicara dengan luas minimum 4 m2.
3)
Ruang Bina Wicara dilengkapi dengan sarana
sebagaimana tercantum pada tabel berikut.
|
No |
Jenis |
Rasio |
Deskripsi |
|
1 |
Perabot |
|
|
|
1.1 |
Kursi peserta didik |
1 buah/peserta didik |
Kuat, stabil dan aman. |
|
1.2 |
Meja peserta didik |
1 buah/peserta didik |
Kuat, stabil dan aman. |
|
1.3 |
Kursi guru |
1 buah/guru |
Kuat, stabil dan aman. |
|
1.4 |
Meja guru |
1 buah/guru |
Kuat. Stabil dan aman. |
|
1.5 |
Lemari |
1 buah/ruang |
Ukuran memadaai ntuk menyimpan seluruh peralatan Bina Wicara dapat
dikunci |
|
2 |
Peralatan
Pendidikan |
|
|
|
2.1 |
Speech trainer |
1 unit/ruang |
Berfungsi sebagai alat amplifikasi bunyi untuk umpan balik pendengaran.
Dilengkapi dengan lampu indikator dan vibrator, headphone anak (suara dan vibrator),
serta mikrofon guru dan peserta didik |
|
2.2 |
Alat perekam |
1 unit/ruang |
Tape recorder atau alat perekam lain yang setara untuk merekam
hasil Latihan bicara peserta didik, |
|
2.3 |
Cermin |
1 buah/ruang |
Ukuran minimum dapat digunakan 2 orang bersebelahan, dipasang di
dinding sebagai umpan balik visual dan membaca ujaran. |
|
2.4 |
Nasalator |
1 buah/ruang |
Alat bantu pembentuk fonem-fonem nasal/sengau. |
|
2.5 |
Sikat getar |
5 buah/ruang |
Alat bantu pembentukan fonem-fonem getar. |
|
2.6 |
Alat Latihan pernafasan |
1 set/ruang |
Dapat berupa bola pingpong dengan media pipa PVC dibelah, kapas,
bulu-bulu, lilin, kertas tipis, pembuluh dan perfume/aroma. |
|
2.7 |
Alat Latihan organ bicara |
1 buah/ruang |
Terdiri dari berbagai makanan lunak, cair dan keras sebagai perangsang
lidah, seperti madu, permen dan sirup. |
|
2.8 |
Spatel |
3 buah/ruang |
Digunakan untuk memperbaiki posisi lidah saat pengucapan fonem
tertentu. Dapat diganti dengan sendok es krim untuk penggunaan sekali pakai. |
|
2.9 |
Garpu tala |
1 buah/ruang |
|
|
2.10 |
Gambar organ artikulasi |
1 buah/ruang |
Digunakan untuk membantu menyadari posisi organ artikulasi sesuai
dengan fonem yang akan dibentuk. |
|
2.11 |
Bagan konsonan dan vokal |
1 buah/ruang |
Digunakan untuk membantu menyadarkan dan membnetuk fonem sesuai dengan
posisi alat ucap. |
|
2.12 |
Kartu identifikasi |
1 set/ruang |
Kartu kata berjumlah minimal 15 kartu perfenom untuk mengidntifikasi
fonem sesuai dengan posisi awal, tengah dan akhir. |
|
2.13 |
Buku program latihan |
1 buah/peserta didik |
Merekam perkembangan Latihan peserta didik. |
|
3 |
Perlengkapan
lain |
|
|
|
3.1 |
Jam dinding |
1 buah/ruang |
|
|
3.2 |
Kotak kontak |
1 buah/ruang |
|
|
3.3 |
Tempat sampah |
1 buah/ruang |
|
c.
Ruang Bina
Persepsi Bunyi dan Irama untuk Tunarungu
1)
Ruang Bina Persepsi Bunyi dan Irama
berfungsi sebagai tempat mengembangkan kemampuan memanfaatkan sisa pendengaran
dan/atau perasaan vibrasi untuk menghayati bunyi dan rangsang getar di
sekitarnya, serta mengembangkan kemampuan berbahasa khususnya bahasa irama.
2)
Sekolah yang melayani peserta didik SDLB/SMALB
tunarungu memiliki minimum satu buah ruang Bina Persepsi Bunyi dan Irama yang
dapat menampung satu rombongan belajar dengan luas minimum 30 m2.
3)
Ruang Bina Persepsi Bunyi dan Irama
dilengkapi dengan sarana sebagaimana tercantum pada tabel berikut.
|
No |
Jenis |
Rasio |
Deskripsi |
|
1 |
Perabot |
|
|
|
1.1 |
Kursi peserta
didik |
1 buah/peserta didik |
Kuat, stabil dan aman. |
|
1.2 |
Meja peserta
didik |
1 buah/peserta didik |
Kuat, stabil dan aman. |
|
1.3 |
Kursi guru |
1 buah/guru |
Kuat, stabil dan aman. |
|
1.4 |
Meja guru |
1 buah/guru |
Kuat, stabil dan aman. |
|
1.5 |
Lemari |
1 buah/ruang |
Ukuran memadai
untuk menyimpan seluruh peralatan Bina Persepsi Bunyi dan Irama. Dapat
dikunci. |
|
2 |
Peralatan
pendidikan |
|
|
|
2.1 |
Cermin |
1 buah/ruang |
Ukuran minimum 4
m x 2 m, dipasang di dinding ruang sebagai umpan balik visual, dilengkapi
dengan kain penutup cermin. |
|
2.2 |
Sound system |
1 set/sekolah |
Dapat
mengeluarkan suara dan vibrasi yang dapat ditangkap oleh peserta didik. Dapat
memutar kaset, CD dan media lain untuk mengiringi pembelajaran gerak dan
tari. |
|
2.3 |
Sound level meter |
1 buah/sekolah |
Dapat mengukur
tingkat kekerasan suara yang dihasilkan sound system agar dapat ditangkap
peserta didik. |
|
2.4 |
keyboard |
1 buah/sekolah |
Terdiri dari 3
oktaf. |
|
2.5 |
Alat musik
pukul |
1 set/sekolah |
Dapat meliputi
tambur, drum, gendang, tamburin, rebana, gong, bende, kempul, kenong,
angklung, kentongan, garputala, triangle. |
|
2.6 |
Alat musik tiup |
6 buah/sekolah |
Dapat meliputi
seruling, peluit, harmonika, pianika, terompet. |
|
2.7 |
Panggung getar |
1 buah/sekolah |
Panggung
berukuran 4 m2 dengan tinggi 30 cm, kuat dan mendukung gerak
peserta didik. |
|
2.8 |
Alat bantu
dengar |
10 buah/sekolah |
Jenis pocket,
super power, dan bina oral. |
|
3 |
Media pendidikan |
|
|
|
3.1 |
Papan tulis |
2 buah/ruang |
Ukuran minimum
60 cm x 120 cm. Ditempatkan pada posisi yang memungkinkan seluruh peserta
didik melihat dengan jelas. |
|
4 |
Perlengkapan
lain |
|
|
|
4.1 |
Jam dinding |
1 buah/ruang |
|
|
4.2 |
Kotak kontak |
1 buah/ruang |
|
|
4.3 |
Tempat sampah |
1 buah/ruang |
|
d.
Ruang Bina Diri
untuk Tunagrahita
1)
Ruang Bina Diri berfungsi sebagai tempat
kegiatan pembelajaran Bina Diri yang meliputi:
a)
Merawat diri: Makan, minum, menjaga
kebersihan badan, buang air.
b)
Mengurus diri: Berpakaian dan berhias diri
c)
Okupasi: Melakukan kegiatan sehari-hari
yang meliputi mencuci dan menyeterika baju, menyemir sepatu, membuat minuman,
memasang sprei, dan membersihkan lantai.
2)
Sekolah yang melayani peserta didik SDLB/SMALB
tunagrahita memiliki minimum satu buah ruang Bina Diri dengan luas minimum 24 m2.
3)
Ruang Bina Diri dilengkapi dengan kamar
mandi dan/atau jamban khusus untuk latihan atau dapat memanfaatkan jamban yang
ada.
4) Ruang Bina Diri dilengkapi dengan sarana sebagaimana tercantum pada tabel berikut.
|
No |
Jenis |
Rasio |
Deskripsi |
|
1 |
Perabot
|
|
|
|
1.1 |
Lemari pakaian |
1 buah/ruang |
Kuat, stabil,
dan aman. Memiliki rak dan gantungan baju. |
|
1.2 |
Meja dan kursi rias |
1 set/ruang |
Kuat, stabil,
dan aman. Dilengkapi dengan cermin. |
|
1.3 |
Meja dan kursi makan |
1 set/ruang |
Kuat, stabil,
dan aman. Minimum untuk 6 orang. |
|
1.4 |
Meja setrika |
1 set/ruang |
Kuat, stabil,
dan aman. |
|
1.5 |
Tempat tidur |
1 buah/ruang |
Kuat, stabil,
dan aman. |
|
1.6 |
Meja dapur |
1 buah/ruang |
Kuat, stabil,
dan aman. |
|
1,7 |
Meja dan kursi guru |
1 set/ruang |
Kuat, stabil,
dan aman. |
|
2 |
Peralatan Pendidikan |
|
|
|
2.1 |
Perlengkapan
rias |
1 set/ruang |
Terdiri dari
bedak, minyak rambut dan sisir. |
|
2.2 |
Perlengkapan
makan dan minum |
1 set/ruang |
Terdiri dari
piring, sendok, garpu dan gelas. Terbuat dari bahan tidak mudah pecah. |
|
2.3 |
Taplak meja |
1 buah/ruang |
Warna kain
menarik dan tidak mudah kotor. |
|
2.4 |
Perlengkapan
menggosok gigi |
1 set/ peserta |
Terdiri dari
sikat gigi, pasta gigi, gelas dan handuk kecil. |
|
2.5 |
Perlengkapan
memasak |
2 set/ruang |
Terdiri dari
berbagai perlengkapan memasak dan persiapan memasak yang terbuat dari bahan
yang tidak berkarat dan tidak mudah pecah. |
|
2.6 |
Perlengkapan
menyeterika |
1 set/ruang |
Terdiri dari
setrika dan meja setrika |
|
2.7 |
Perlengkapan
tempat tidur |
1 set/ruang |
Terdiri dari
sprei, kasur, bantal guling dan sarungnya, selimut. |
|
2.8 |
Perlengkapan
kebersihan |
1 buah/ruang |
Terdiri dari
sapu, alat pel, ember, kemoceng, kain lap, dan bahan pembersih. |
|
2.9 |
Pakaian |
1 set/peserta
didik |
Terdiri dari
pakaian sekolah, pakaian ibadah, pakaian santai dan pakaian pesta. |
|
2.10 |
Perlengkapan
mandi dan buang air |
1 set/ruang |
Terdiri dari
gayung dan ember. Dilengkapi dengan handuk, sabun dan shampo untuk setiap
peserta didik. |
|
2.11 |
Perlengkapan
mencuci |
1 set/ruang |
Terdiri dari
ember, papan cuci, sikat dan sabun cuci pakaian. |
|
3 |
Perlengkapan
lain |
|
|
|
3.1 |
Jam dinding |
1 buah/ruang |
|
|
3.2 |
Kotak kontak |
1 buah/ruang |
|
|
3.3 |
Tempat sampah |
1 buah/ruang |
|
e.
Ruang Bina Diri
dan Bina Gerak untuk Tunadaksa
1)
Ruang Bina Diri dan Bina Gerak berfungsi
sebagai tempat latihan koordinasi, layanan perbaikan disfungsi organ tubuh,
terapi wicara dan terapi okupasional, serta sekaligus berfungsi sebagai ruang
asesmen.
2)
Sekolah yang melayani peserta didik SDLB/SMALB
tunadaksa memiliki minimum satu buah ruang Bina Diri dan Bina Gerak yang dapat
menampung satu rombongan belajar dengan luas minimum 30 m2.
3)
Ruang Bina Diri dan Bina Gerak dilengkapi
dengan kamar mandi dan/atau jamban khusus untuk latihan atau dapat memanfaatkan
jamban yang ada.
4)
Ruang Bina Diri dan Bina Gerak dilengkapi
dengan sarana sebagaimana tercantum pada tabel berikut.
|
No |
Jenis |
Rasio |
Deskripsi |
|
1 |
Perabot
|
|
|
|
1.1 |
Meja dan kursi guru |
1 set/ruang |
Kuat, stabil dan aman. |
|
1.2 |
Meja dan kursi peserta didik |
1set/ruang |
Kuat, stabil dan aman. |
|
2 |
Peralatan
Pendidikan |
|
|
|
2.1 |
Staal bars |
1 buah/sekolah |
Ukuran standar
untuk anak yang dapat terbuat dari kayu atau kayu dan logam. Berfungsi
sebagai alat bantu berdiri atau alat untuk memperkenalkan posisi berdiri. |
|
2.2 |
Restorator hand dan Restorator
leg |
1 set/sekolah |
Digunakan untuk
latihan tangan dan latihan kaki. |
|
2.3 |
Exercise mat R 70 |
2 set/sekolah |
Digunakan
sebagai alas lantai saat latihan. |
|
2.4 |
Papan
keseimbangan |
1 set/sekolah |
Terbuat dari
balok ukuran panjang 3 m, lebar 15 cm, tebal 10 cm, tinggi 20 cm dari lantai.
Digunakan untuk latihan keseimbangan pada posisi berdiri dan berjalan. |
|
2.5 |
Sand bag |
3 unit/sekolah |
unit/sekolah
Kantong berisi pasir sebagai pemberat dan penyetabil keseimbangan. |
|
2.6 |
Stand-in table |
1 set/sekolah |
Dapat digunakan
oleh dua peserta didik. Digunakan untuk memperbaiki postur tubuh dan melatih
otot kaki. |
|
2.7 |
Vestibular board |
1 set/sekolah |
Berupa papan
keseimbangan setengah lingkaran yang digunakan untuk latihan keseimbangan
dalam posisi duduk dan tengkurap. |
|
2.8 |
Balance beam set |
1 set/sekolah |
Digunakan untuk
mengembangkan kemampuan persepsi jarak dalam melangkah. |
|
2.9 |
Physio ball
mirror |
1 set/sekolah |
Terdiri dari
beberapa ukuran. Digunakan sebagai tumpuan untuk melatih otot perut dan
punggung. |
|
2.10 |
Wheelchair |
2 buah/sekolah |
Kursi roda
sebagai alat bantu bergerak. |
|
2.11 |
Walker |
2 buah/sekolah |
Digunakan
sebagai alat bantu berjalan. |
|
2.12 |
Crawler |
1 buah/sekolah |
Digunakan
sebagai alat bantu bergerak bagi siswa dengan anggota tubuh yang tidak
berfungsi. |
|
2.13 |
Stick |
2 pasang/sekolah |
|
|
2.14 |
Kruk |
2 pasang/sekolah |
untuk setiap
jenis Meliputi jenis kruk dengan tumpuan di siku dan kruk dengan tumpuan di
ketiak |
|
2.15 |
Tripod |
1 set/sekolah |
Terbuat dari
logam. Digunakan sebagai alat bantu berjalan. |
|
2.16 |
Brace |
1 set/sekolah |
Digunakan untuk
menyangga kaki yang layu. |
|
2.17 |
Walking parallel
bars |
1 set/sekolah |
Digunakan untuk
latihan berjalan serta penguatan otot kaki dan otot tangan. |
|
2.18 |
Wall bars |
1 buah/sekolah |
Berupa tangga
yang menempel pada dinding tembok. Berfungsi untuk melatih kekuatan otot
tangan, otot kaki dan memperbaiki postur tubuh terutama tulang belakang. |
|
2.19 |
Dynamic body and
balance |
1 set/sekolah |
Digunakan untuk
latihan keseimbangan dalam berbagai posisi. |
|
2.20 |
Kolam
hydrotherapy |
1 buah/sekolah |
Berupa kolam
berukuran 2 m2 dengan kedalaman antara 20-120 cm. Terbuat dari
beton, fiber, plastik atau bahan lain yang setara. Dapat berupa kolam
permanen atau portabel. |
|
2.21 |
Tempat tidur. |
1 buah/sekolah |
Digunakan sebagai
tempat untuk pemijatan otot-otot yang layu |
|
2.22 |
Dressing frame
set |
6 set/sekolah |
Sebagai sarana
latihan binadiri. |
|
2.23 |
Swivel utensil |
1 set/sekolah |
Sebagai sarana
latihan binadiri. |
|
2.24 |
Lacing shoes |
1 set/sekolah |
Sebagai sarana
latihan binadiri. Terdiri dari perlengkapan latihan menggunakan sepatu dan
kaos kaki. |
|
2.25 |
Peralatan toilet
training |
1 set/sekolah |
Terdiri dari
berbagai bentuk kloset untuk latihan buang air serta latihan bagi
orangtua/pengasuh untuk memindahkan peserta didik dari kursi roda ke kloset. |
|
2.26 |
Cermin |
1 buah/sekolah |
Cermin lebar
dipasang di dinding dan dilengkapi dengan kain penutup cermin. |
|
2.27 |
Speech trainer |
1 set/sekolah |
Berfungsi
sebagai alat amplifikasi bunyi untuk umpan balik pendengaran. Dilengkapi
dengan lampu indikator dan vibrator, headphone anak (suara dan vibrator),
serta mikrofon guru dan peserta didik. |
|
2.28 |
Garpu tala
Spatel |
1 buah/sekolah |
|
|
2.29 |
Spatel |
1 buah/sekolah |
Digunakan untuk memperbaiki
posisi lidah saat pengucapan fonem tertentu. Dapat diganti dengan sendok es
krim untuk penggunaan sekali pakai. |
|
3 |
Perlengkapan
lain |
|
|
|
3.1 |
Jam dinding |
1 buah/ruang |
|
|
3.2 |
Kotak kontak |
1 buah/ruang |
|
|
3.3 |
Tempat sampah |
1 buah/ruang |
|
f.
Ruang Bina
Pribadi dan Sosial untuk Tunalaras.
1)
Ruang Bina Pribadi dan Sosial berfungsi
sebagai tempat penanganan dan pemberian tindakan kepada peserta didik dalam
usaha perubahan perilaku, pribadi dan sosial.
2)
Sekolah yang melayani peserta didik SDLB/SMALB
tunalaras memiliki minimum satu ruang Bina Pribadi dan Sosial dengan luas
minimum 9 m2.
3)
Ruang Bina Pribadi dan Sosial dapat
memberikan kenyamanan suasana bagi peserta didik.
4)
Ruang Bina Pribadi dan Sosial dilengkapi
dengan sarana sebagaimana tercantum pada tabel berikut.
|
No |
Jenis |
Rasio |
Deskripsi |
|
1 |
Perabot |
|
|
|
1.1 |
Meja kerja |
1 buah/ruang |
Model setengah biro |
|
1.2 |
Kursi kerja |
2 buah/ruang |
Kuat, stabil, dan aman |
|
1.3 |
Kursi tamu |
1 set /ruang |
Kuat, stabil, dan aman. Untuk 5 orang. |
|
1.4 |
Lemari |
1 buah/ruang |
Ukuran memadai untuk menyimpan peralatan
Bina Pribadi dan Sosial. |
|
2 |
Peralatan
pendidikan |
|
|
|
2.1 |
Buku catatan pribadi |
1 set/ruang |
Untuk mencatat perkembangan perilaku
peserta didik. |
|
2.2 |
Media pengembangan kepribadian |
1 set/ruang |
Media simulasi peran keluarga, media
penyaluran agresifitas (misalnya rolling boxer, sarung tinju dan tracksando). |
|
3 |
Perlengkapan
lain |
|
|
|
3.1 |
Jam dinding |
1 buah/ruang |
|
|
3.2 |
Kotak kontak |
1 buah/ruang |
|
|
3.3 |
Tempat sampah |
1 buah/ruang |
|
g.
Ruang Keterampilan
1)
Ruang keterampilan berfungsi sebagai
tempat kegiatan pembelajaran keterampilan sesuai dengan program keterampilan
yang dipilih oleh tiap sekolah.
2)
Pada setiap sekolah yang menyelenggarakan
jenjang pendidikan SMPLB/SMALB minimum terdapat dua buah ruang keterampilan.
Ruang tersebut digunakan untuk kegiatan pembelajaran pada jenis keterampilan
yang dapat dipilih dari tiga kelompok keterampilan: keterampilan rekayasa,
keterampilan jasa atau keterampilan perkantoran.
3)
Ruang keterampilan memiliki luas minimum
24 m2 dan lebar minimum 4 m.
4)
Ruang keterampilan dilengkapi dengan
sarana sesuai jenis keterampilan.
5.
Ruang
Penunjang
a. Ruang Pimpinan
1)
Ruang pimpinan berfungsi sebagai tempat
melakukan kegiatan pengelolaan SDLB/SMALB, pertemuan dengan sejumlah kecil
guru, orang tua murid, unsur komite sekolah, petugas dinas pendidikan, atau
tamu lainnya.
2)
Luas minimum ruang pimpinan adalah 12 m2
dan lebar minimum adalah 3 m.
3)
Ruang pimpinan mudah diakses oleh guru dan
tamu sekolah, serta dapat dikunci dengan baik.
4)
Ruang pimpinan dilengkapi sarana
sebagaimana tercantum pada tabel berikut.
|
No |
Jenis |
Rasio |
Deskripsi |
|
1 |
Perabot
|
|
|
|
1.1 |
Kursi pimpinan |
1 buah/ruang |
Kuat, stabil,
dan aman. Ukuran memadai untuk duduk dengan nyaman. |
|
1.2 |
Meja pimpinan |
1 buah/ruang |
Kuat, stabil,
dan aman. Ukuran memadai untuk bekerja dengan nyaman. |
|
1.3 |
Kursi dan meja tamu |
1 set/ruang |
Kuat, stabil,
dan aman. Ukuran memadai untuk 5 orang duduk dengan nyaman. |
|
1.4 |
Lemari |
1 buah/ruang |
Kuat, stabil,
dan aman. Ukuran memadai untuk menyimpan perlengkapan pimpinan sekolah. Dapat
dikunci |
|
1.5 |
Papan statistic |
1 buah/ruang |
Kuat, stabil,
dan aman. Berupa papan tulis berukuran minimum 1 m2. |
|
2 |
Perlengkapan
lain |
|
|
|
2.1 |
Symbol kenegaraan |
1 set/ruang |
Terdiri dari
Bendera Merah Putih, Garuda Pancasila, Gambar Presiden RI, dan Gambar Wakil
Presiden RI. |
|
2.2 |
Tempat sampah |
1 buah/ruang |
|
|
2.3 |
Jam dinding |
1 buah/ruang |
|
b. Ruang Guru
1)
Ruang guru berfungsi sebagai tempat guru
bekerja dan istirahat serta menerima tamu, baik peserta didik maupun tamu
lainnya.
2)
Rasio minimum luas ruang guru adalah 4 m2/pendidik
dan luas minimum adalah 32 m2.
3)
Ruang guru mudah dicapai dari halaman SDLB/SMALB
ataupun dari luar lingkungan SDLB/SMALB, serta dekat dengan ruang pimpinan.
4)
Ruang guru dilengkapi sarana sebagaimana
tercantum pada tabel berikut.
|
No |
Jenis |
Rasio |
Deskripsi |
|
1 |
Perabot
|
|
|
|
1.1 |
Kursi kerja |
1 buah/ruang |
Kuat, stabil,
dan aman. Ukuran memadai untuk duduk dengan nyaman. |
|
1.2 |
Meja kerja |
1 buah/ruang |
Kuat, stabil,
dan aman. Model meja setengah biro. Ukuran memadai untuk menulis, membaca,
memeriksa pekerjaan, dan memberikan konsultasi. |
|
1.3 |
Lemari |
1 buah/guru atau
1 buah yang digunakan bersama oleh semua guru |
Kuat, stabil,
dan aman. Ukuran memadai untuk menyimpan perlengkapan guru untuk persiapan
dan pelaksanaan pembelajaran. Dapat dikunci. |
|
1.4 |
Papan statistik |
1 buah/sekolah |
Kuat, stabil,
dan aman. Berupa papan tulis berukuran minimum 1 m2. |
|
1.5 |
Papan pengumuman |
1 buah/sekolah |
Kuat, stabil,
dan aman. Berupa papan tulis berukuran minimum 1 m2. |
|
2 |
Perlengkapan
lain |
|
|
|
2.1 |
Tempat cuci tangan |
1 set/ruang |
|
|
2.2 |
Jam dinding |
1 buah/ruang |
|
|
2.3 |
Tempat sampah |
1 buah/ruang |
|
c.
Ruang Tata Usaha
1)
Ruang tata usaha berfungsi sebagai tempat
kerja petugas untuk mengerjakan administrasi SDLB/SMALB.
2)
Rasio minimum luas ruang tata usaha adalah
4 m2/petugas dan luas minimum adalah 16 m2.
3)
Ruang tata usaha mudah dicapai dari
halaman SDLB/SMALB ataupun dari luar lingkungan SDLB/SMALB, serta dekat dengan
ruang pimpinan.
4)
Ruang tata usaha dilengkapi sarana
sebagaimana tercantum pada tabel berikut.
|
No |
Jenis |
Rasio |
Deskripsi |
|
1 |
Perabot
|
|
|
|
1.1 |
Kursi kerja |
1 buah/petugas |
Kuat, stabil,
dan aman. Ukuran memadai untuk duduk dengan nyaman. |
|
1.2 |
Meja kerja |
1 buah/petugas |
Kuat, stabil,
dan aman. Model meja setengah biro. Ukuran memadai untuk melakukan pekerjaan
administrasi. |
|
1.3 |
Lemari |
1 buah/ruang |
Kuat, stabil,
dan aman. Ukuran memadai untuk menyimpan arsip dan perlengkapan pengelolaan
administrasi sekolah. Dapat dikunci. |
|
1.4 |
Papan statistik |
1 buah/ruang |
Kuat, stabil,
dan aman. Berupa papan tulis berukuran minimum 1 m2. |
|
2 |
Perlengkapan
lain |
|
|
|
2.1 |
Mesin ketik/
komputer |
1 set/sekolah |
|
|
2.2 |
Filing cabinet |
1 buah/sekolah |
|
|
2.3 |
Brankas |
1 buah/sekolah |
|
|
2.4 |
Telepon |
1 buah/sekolah |
|
|
2.5 |
Jam dinding |
1 buah/ruang |
|
|
2.6 |
Kotak kontak |
1 buah/ruang |
|
|
2.7 |
Penanda waktu |
1 buah/sekolah |
|
|
2.8 |
Tempat sampah |
1 buah/ruang |
|
d. Tempat Beribadah
1)
Tempat beribadah berfungsi sebagai tempat
warga SDLB/SMALB melakukan ibadah yang diwajibkan oleh agama masing-masing pada
waktu sekolah.
2)
Banyak tempat beribadah sesuai dengan
kebutuhan tiap SDLB/SMALB, dengan luas minimum adalah 12 m2.
3)
Tempat beribadah dilengkapi sarana
sebagaimana tercantum pada berikut.
|
No |
Jenis |
Rasio |
Deskripsi |
|
1 |
Perabot
|
|
|
|
1.1 |
Lemari/rak |
1 buah/tempat
ibadah |
Kuat, stabil,
dan aman. Ukuran memadai untuk menyimpan perlengkapan ibadah. |
|
2 |
Perlengkapan
lain |
|
|
|
2.1 |
Perlengkapan ibadah |
|
Disesuaikan
dengan kebutuhan. |
|
2.2 |
Jam dinding |
1 buah/tempat
ibadah |
|
e. Ruang UKS
1)
Ruang UKS berfungsi sebagai tempat untuk
penanganan dini peserta didik yang mengalami gangguan kesehatan di SDLB/SMALB.
2)
Luas minimum ruang UKS adalah 12 m2.
3)
Ruang UKS dilengkapi sarana sebagaimana
tercantum pada tabel berikut.
|
No |
Jenis |
Rasio |
Deskripsi |
|
1 |
Perabot
|
|
|
|
1.1 |
Tempat tidur |
1 set/ruang |
Kuat, stabil, dan aman. |
|
1.2 |
Meja |
1 buah/ruang |
Kuat, stabil, dan aman. |
|
1.3 |
Kursi |
2 buah/ruang |
Kuat, stabil, dan aman. |
|
1.4 |
Lemari |
1 buah/ruang |
Kuat, stabil,
dan aman. Dapat dikunci. |
|
2 |
Perlemgkapan
lain |
|
|
|
2.1 |
Catatan
kesehatan peserta didik |
1 set/ruang |
|
|
2.2 |
Perlengkapan P3K |
1 set/ruang |
Tidak kadaluarsa |
|
2.3 |
Tandu |
1 buah/ruang |
|
|
2.4 |
Selimut |
1 buah/ruang |
|
|
2.5 |
Tensimeter |
1 buah/ruang |
|
|
2.6 |
Termometer badan |
1 buah/ruang |
|
|
2.7 |
Timbangan badan |
1 buah/ruang |
|
|
2.8 |
Pengukur tinggi
badan |
1 buah/ruang |
|
|
2.9 |
Tempat cuci
tangan |
1 buah/ruang |
|
|
2.10 |
Jam dinding |
1 buah/ruang |
|
|
2.11 |
Tempat sampah |
1 buah/ruang |
|
f.
Ruang Konseling/Asesmen
1)
Ruang konseling/asesmen berfungsi sebagai
tempat peserta didik mendapatkan layanan konseling dari konselor berkaitan
dengan pengembangan pribadi, sosial, belajar, dan karir, serta berfungsi
sebagai tempat kegiatan dalam menggali data kemampuan awal peserta didik
sebagai dasar layanan pendidikan selanjutnya.
2)
Luas minimum ruang konseling/asesmen
adalah 9 m2.
3)
Ruang konseling/asesmen dapat memberikan
kenyamanan suasana dan menjamin privasi peserta didik.
4)
Ruang konseling/asesmen dilengkapi sarana
sebagaimana tercantum pada tabel berikut.
|
No |
Jenis |
Rasio |
Deskripsi |
|
1 |
Perabot
|
|
|
|
1.1 |
Meja kerja |
1 buah/ruang |
Kuat, stabil, dan aman. Ukuran
memadai untuk bekerja dengan nyaman. |
|
1.2 |
Kursi kerja |
1 buah/ruang |
Kuat, stabil, dan aman. Ukuran
memadai untuk bekerja dengan nyaman. |
|
1.3 |
Kursi tamu |
2 buah/ruang |
Kuat, stabil, dan aman. Ukuran
memadai untuk bekerja dengan nyaman. |
|
1.4 |
Lemari |
1 buah/ruang |
Kuat, stabil, dan aman. Dapat
dikunci. |
|
1.5 |
Papan kegiatan |
1 buah/ruang |
Kuat, stabil,
dan aman. |
|
2 |
Peralatan
Pendidikan |
|
|
|
2.1 |
Instrumen
konseling |
1 set/ruang |
|
|
2.2 |
Buku sumber |
1 set/ruang |
|
|
2.3 |
Media
pengembangan kepribadian |
1 set/ruang |
Menunjang
pengembangan kognisi, emosi, dan motivasi peserta didik. |
|
2.4 |
Perlengkapan
asesmen |
1 set/ruang |
Disesuaikan
dengan jenis ketunaan peserta didik. |
|
3 |
Perlengkapan
lain |
|
|
|
3.1 |
Jam dinding |
1 buah/ruang |
|
|
3.2 |
Tempat sampah |
1 buah/ruang |
|
g. Ruang organisasi kesiswaan
1)
Ruang organisasi kesiswaan berfungsi sebagai
tempat melakukan kegiatan kesekretariatan pengelolaan organisasi kesiswaan.
2)
Luas minimum ruang organisasi kesiswaan
adalah 9 m2.
3)
Ruang organisasi kesiswaan dilengkapi
sarana sebagaimana tercantum pada tabel berikut.
|
No |
Jenis |
Rasio |
Deskripsi |
|
1 |
Perabot
|
|
|
|
1.1 |
Meja |
1 buah/ruang |
Kuat, stabil,
aman, dan mudah dipindahkan. |
|
1,2 |
Kursi |
4 buah/ruang |
Kuat, stabil,
aman, dan mudah dipindahkan. |
|
1.3 |
Papan tulis |
1 buah/ruang |
Kuat, stabil,
dan aman. |
|
1.4 |
Lemari |
1 buah/ruang |
Kuat, stabil,
dan aman. Dapat dikunci. |
|
2 |
Perlengkapan
lain |
|
|
|
2.1 |
Jam dinding |
1 buah/ruang |
|
|
2.2 |
Tempat sampah |
1 buah/ruang |
|
h. Jamban
1)
Jamban berfungsi sebagai tempat buang air
besar dan/atau kecil.
2)
Minimum terdapat 2 unit jamban. Pada SDLB/SMALB
untuk tunagrahita dan/atau tunadaksa, minimum salah satu unit jamban merupakan
unit yang dapat digunakan oleh anak berkebutuhan khusus, termasuk pengguna
kursi roda.
3)
Jamban dilengkapi dengan peralatan yang
mempermudah peserta didik berkebutuhan khusus untuk menggunakan jamban.
4)
Luas minimum 1 unit jamban adalah 2 m2.
5)
Jamban harus berdinding, beratap, dapat
dikunci, dan mudah dibersihkan.
6)
Tersedia air bersih di setiap unit jamban.
7)
Jamban dilengkapi sarana sebagaimana
tercantum pada tabel berikut.
|
No |
Jenis |
Rasio |
Deskripsi |
|
1 |
Perlengkapan
lain |
|
|
|
1.1 |
Kloset |
1 buah/unit
jamban |
Khusus untuk
SDLB/SMALB tunagrahita dan/atau tunadaksa minimum terdapat 1 buah kloset
duduk yang dapat digunakan oleh pengguna kursi roda. |
|
1.2 |
Tempat air |
1 buah/unit
jamban |
Volume minimum
200 liter. Berisi air bersih. |
|
1.3 |
Gayung |
1 buah/unit
jamban |
|
|
1.4 |
Gantungan pakaian |
1 buah/ruang |
|
|
1.5 |
Tempat sampah |
1 buah/ruang |
|
i.
Gudang
1)
Gudang berfungsi sebagai tempat menyimpan
peralatan pembelajaran di luar kelas, tempat menyimpan sementara peralatan SDLB/SMALB
yang tidak/belum berfungsi, dan tempat menyimpan arsip SDLB/SMALB yang telah
berusia lebih dari 5 tahun.
2)
Luas minimum gudang adalah 18 m2.
3)
Gudang dapat dikunci.
4)
Gudang dilengkapi sarana sebagaimana
tercantum pada tabel berikut.
|
No |
Jenis |
Reasio |
Deskripsi |
|
1 |
Perabot
|
|
|
|
1.1 |
Lemari |
1 buah/ruang |
Kuat, stabil, dan aman. Ukuran
memadai untuk menyimpan alat alat dan arsip berharga. |
|
1.2 |
Rak |
1 buah/ruang |
Kuat, stabil,
dan aman. Ukuran memadai untuk menyimpan peralatan olahraga, kesenian, dan
keterampilan. |
j.
Ruang Sirkulasi
1)
Ruang sirkulasi horizontal berfungsi
sebagai tempat penghubung antar ruang dalam bangunan SDLB/SMALB dan sebagai
tempat berlangsungnya kegiatan bermain dan interaksi sosial peserta didik di
luar jam pelajaran, terutama pada saat hujan ketika tidak memungkinkan kegiatan-kegiatan
tersebut berlangsung di halaman SDLB/SMALB.
2)
Ruang sirkulasi horizontal berupa koridor
yang menghubungkan ruang ruang di dalam bangunan SDLB/SMALB dengan luas minimum
adalah 30% dari luas total seluruh ruang pada bangunan, lebar minimum adalah
1,8 m, dan tinggi minimum adalah 2,5 m.
3)
Ruang sirkulasi horizontal dapat
menghubungkan ruang-ruang dengan baik, beratap, serta mendapat pencahayaan dan
penghawaan yang cukup.
4)
Koridor tanpa dinding pada lantai atas
bangunan bertingkat dilengkapi pagar pengaman dengan tinggi 90-110 cm.
5)
Bangunan bertingkat dilengkapi tangga dan ramp.
6)
Bangunan bertingkat dengan panjang lebih
dari 30 m dilengkapi minimum dua buah tangga.
7)
Jarak tempuh terjauh untuk mencapai tangga
pada bangunan bertingkat tidak lebih dari 25 m.
8)
Lebar minimum tangga adalah 1,5 m, tinggi
maksimum anak tangga adalah 17 cm, lebar anak tangga adalah 25-30 cm, dan
dilengkapi pegangan tangan yang kokoh dengan tinggi 85-90 cm.
9)
Tangga yang memiliki lebih dari 16 anak
tangga harus dilengkapi bordes dengan lebar minimum sama dengan lebar tangga.
10) Kelandaian
ramp tidak lebih terjal dari 1:12.
11) Ruang
sirkulasi vertikal dilengkapi pencahayaan dan penghawaan yang cukup.
k. Tempat Bermain/Berolahraga
1)
Tempat bermain/berolahraga berfungsi
sebagai area bermain, berolahraga, pendidikan jasmani, upacara, dan kegiatan ekstrakurikuler,
serta sebagai tempat latihan orientasi dan mobilitas bagi peserta didik
tunanetra dan latihan mobilitas bagi peserta didik tunadaksa.
2)
Minimum terdapat tempat
bermain/berolahraga berukuran 20 m x 10 m yang memiliki permukaan datar,
drainase baik, dan tidak terdapat pohon, saluran air, serta benda-benda lain
yang mengganggu kegiatan berolahraga.
3)
Sebagian lahan di luar tempat
bermain/berolahraga ditanami pohon yang berfungsi sebagai peneduh.
4)
Lokasi tempat bermain/berolahraga diatur
sedemikian rupa sehingga tidak banyak mengganggu proses pembelajaran di kelas.
5)
Tempat bermain/berolahraga tidak digunakan
untuk tempat parkir.
6)
Tempat bermain/berolahraga dilengkapi
sarana sebagaimana tercantum pada tabel berikut.
|
No |
Jenis |
Rasio |
Deskripsi |
|
1 |
Peralatan
Pendidikan |
|
|
|
1.1 |
Tiang bendera |
1 buah/sekolah |
Tinggi sesuai
ketentuan yang berlaku. |
|
1.2 |
Bendera |
1 buah/sekolah |
Ukuran sesuai
dengan ketentuan yang berlaku. |
|
1.3 |
Peralatan olagraga |
3 set/sekolah |
Jenis
disesuaikan dengan jenis ketunaan peserta didik. |
C.
Kendala
dalam Pemenuhan Standar Sarana dan Prasaran di SDLB/SMALB
Pemenuhan standar sarana dan prasarana di SDLB/SMALB
pada dasarnya memiliki tantangan yang lebih kompleks dibandingkan sekolah
reguler. Hal ini terjadi karena peserta didik berkebutuhan khusus membutuhkan
fasilitas, alat bantu, serta layanan pendukung yang sifatnya lebih spesifik,
lebih mahal, dan tidak selalu tersedia secara mudah.[9]
Meskipun pemerintah telah menetapkan standar minimal melalui Permendiknas Nomor
33 Tahun 2008 maupun regulasi lainnya, kenyataannya tidak semua sekolah mampu
memenuhi seluruh ketentuan tersebut secara optimal. Adapun kendala yang dihadapi
oleh SDLB/SMALB, antara lain:[10]
a. Keterbatasan anggaran
Tidak semua sekolah luar
biasa memperoleh dana yang cukup untuk memenuhi standar sarana dan prasarana.
Banyak sekolah di daerah masih bergantung pada bantuan pemerintah, sementara
dana BOS sering kali belum mencukupi untuk pengadaan alat bantu khusus yang
harganya cukup mahal.
b. Kurangnya lahan dan infrastruktur
Beberapa sekolah luar biasa
memiliki lahan terbatas sehingga sulit untuk menambah ruang kelas, membangun
jalur landai, atau membuat area terapi. Kondisi bangunan lama juga sering kali
tidak mendukung aksesibilitas bagi siswa disabilitas.
c. Minimnya alat bantu pembelajaran khusus
Banyak sekolah yang belum
memiliki alat bantu seperti buku Braille, Braille display, alat bantu dengar,
atau media pembelajaran berbasis teknologi yang disesuaikan dengan kebutuhan
siswa. Hal ini membuat proses belajar mengajar kurang optimal.
d. Kurangnya pemahaman tenaga pendidik dan kependidikan
Tidak semua guru dan staf
sekolah memiliki keterampilan untuk menggunakan dan merawat fasilitas khusus
bagi siswa berkebutuhan khusus. Akibatnya, beberapa alat bantu tidak digunakan
secara maksimal.
e. Keterbatasan dukungan dari masyarakat dan lingkungan
sekitar
Masih ada masyarakat yang
belum memahami pentingnya pendidikan inklusif. Dukungan dari pihak swasta atau
lembaga nonpemerintah juga belum merata di semua wilayah.
f.
Perawatan dan
pemeliharaan yang belum optimal
Banyak sekolah tidak
memiliki biaya khusus atau tenaga teknis untuk melakukan perawatan rutin
terhadap fasilitas. Akibatnya, alat bantu dan sarana belajar cepat rusak dan
tidak bisa digunakan dalam jangka panjang.
Secara keseluruhan, kendala-kendala tersebut menunjukkan bahwa meskipun standar sarana dan prasarana sudah jelas diatur dalam Permendiknas, implementasinya masih menghadapi tantangan di lapangan. Oleh karena itu, dibutuhkan dukungan berkelanjutan dari pemerintah, masyarakat, dan pihak swasta agar layanan pendidikan bagi peserta didik berkebutuhan khusus benar-benar terlaksana secara merata dan inklusif.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Konsep standar sarana dan prasarana pada SDLB/SMALB
adalah pedoman yang mengatur penyediaan fasilitas pendidikan yang layak, aman,
dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik berkebutuhan khusus. Standar ini
tidak hanya menekankan ketersediaan fasilitas fisik, tetapi juga memastikan
aksesibilitas, kenyamanan, dan dukungan yang memungkinkan setiap siswa belajar
secara optimal sesuai karakteristik ketunaannya.
Standar sarana dan prasarana SDLB/SMALB sebagaimana
diatur dalam Permendiknas Nomor 33 Tahun 2008 mencakup lahan, bangunan, ruang
pembelajaran umum, ruang pembelajaran khusus, serta ruang penunjang. Setiap
komponen memiliki fungsi khusus yang dirancang untuk mendukung proses
pembelajaran dan layanan terapi bagi peserta didik dengan ketunaan berbeda,
sehingga sekolah dapat memberikan layanan pendidikan yang efektif dan sesuai
kebutuhan.
Dalam pemenuhannya, SDLB dan SMALB masih menghadapi
berbagai kendala, seperti keterbatasan anggaran, minimnya alat bantu
pembelajaran khusus, kurangnya lahan dan infrastruktur aksesibel, serta belum
optimalnya pemahaman tenaga pendidik dalam memanfaatkan fasilitas khusus.
Selain itu, perawatan sarana yang tidak memadai dan kurangnya dukungan
masyarakat turut menjadi tantangan, sehingga pemenuhan standar secara
menyeluruh memerlukan kerja sama antara pemerintah, sekolah, dan pihak terkait
lainnya.
B.
Saran
Diharapkan sekolah semakin meningkatkan sarana dan prasarana yang
aksesibel dan sesuai kebutuhan peserta didik, serta memanfaatkan teknologi
untuk mendukung pembelajaran. Makalah ini diharapkan bermanfaat sebagai
referensi dalam memahami pentingnya pemenuhan standar sarana dan prasarana di
SDLB/SMALB.
DAFTAR PUSTAKA
Ashshiddiqi, Hasbi, ustami A. Gani, Muchtar Jahya, Toha Jahya
Omar, Mukti Ali, Kamal Muchtar, Gazali Thaib, Musaddad, Ali Maksum, and
Busjairi Madjidi. Al Qur’an Dan Terjemahnya. Jakarta: Yayasan
Penyelenggara Penerjemah/Pentafsir Al Qur’an, 2019.
Badrudin, Badrudin, Rana Setiana, Salma Fauziyyah, and Sri
Ramdani. “Standarisasi Pendidikan Nasional.” JIIP-Jurnal Ilmiah Ilmu
Pendidikan 7, no. 2 (2024): 1797–1808.
Nuryati, Nunung. Pendidikan Bagi Anak Berkebutuhan Khusus.
Jawa Barat: Unisa press, 2022.
Parwoto. Dasar-Dasar Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus.
Yogyakarta: Deepublish, 2025.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI. “Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2008 Tentang Standar
Sarana Dan Prasarana Untuk Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB), Sekolah Menengah
Pertama Luar Biasa (SMPLB), Dan Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB),”
2008.
Pitaloka, Asyharinur Ayuning Putriana, Safira Aura
Fakhiratunnisa, and Tika Kusuma Ningrum. “Konsep Dasar Anak Berkebutuhan
Khusus.” Jurnal Pendidikan Dan Sains 2, no. 1 (2022): 26–42.
Putra, Daffa Karisma, Hardi Warsono, and Retno Sunu Astuti.
“Implementasi Pemenuhan Hak Untuk Memperoleh Pendidikan Yang Berkualitas Bagi
Penyandang Disabilitas Di Sekolah Luar Biasa Negeri Kota Semarang.” Journal
of Public Policy and Management Review 1, no. 1 (2024): 960–74.
Sari, Desak Made Indah Paramitha. “Analisis Akuntabilitas Dan
Transparansi Pengelolaan Dana Bos Pada Slb Negeri 2 Denpasar.” Jurnal
Akuntansi 11, no. 1 (2022): 103–17.
Wahyudin, Undang Ruslan. Manajemen Pendidikan (Teori Dan
Praktik Dalam Penyelenggaraan Sistem Pendidikan Nasional). Yogyakarta:
Deepublish, 2020.
Zulpikar, Muhammad, Denny Denmar, Agus Lestari, and Friscilla
Wulan Tersta. “Pengelolaan Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus Tunanetra
Tingkat SMALB.” Jurnal Pendidikan Kebutuhan Khusus 9, no. 1 (2025):
38–50.
[1] Badrudin
Badrudin et al., “Standarisasi Pendidikan Nasional,” JIIP-Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan 7, no. 2 (2024): 1797–1808.
[2] Undang
Ruslan Wahyudin, Manajemen Pendidikan
(Teori Dan Praktik Dalam Penyelenggaraan Sistem Pendidikan Nasional)
(Yogyakarta: Deepublish, 2020), 147.
[3] Parwoto,
Dasar-Dasar Pendidikan Anak Berkebutuhan
Khusus (Yogyakarta: Deepublish, 2025), 145.
[4] Hasbi
Ashshiddiqi et al., Al Qur’an Dan
Terjemahnya (Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penerjemah/Pentafsir Al Qur’an,
2019), 910.
[5] Asyharinur
Ayuning Putriana Pitaloka, Safira Aura Fakhiratunnisa, and Tika Kusuma Ningrum,
“Konsep Dasar Anak Berkebutuhan Khusus,” Jurnal
Pendidikan Dan Sains 2, no. 1 (2022): 26–42.
[6] Nunung
Nuryati, Pendidikan Bagi Anak
Berkebutuhan Khusus (Jawa Barat: Unisa press, 2022), 37.
[7] Daffa
Karisma Putra, Hardi Warsono, and Retno Sunu Astuti, “Implementasi Pemenuhan
Hak Untuk Memperoleh Pendidikan Yang Berkualitas Bagi Penyandang Disabilitas Di
Sekolah Luar Biasa Negeri Kota Semarang,” Journal
of Public Policy and Management Review 1, no. 1 (2024): 960–74.
[8] Peraturan
Menteri Pendidikan Nasional RI, “Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik
Indonesia Nomor 33 Tahun 2008 Tentang Standar Sarana Dan Prasarana Untuk
Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB), Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB),
Dan Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB),” 2008.
[9] Muhammad
Zulpikar et al., “Pengelolaan Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus Tunanetra
Tingkat SMALB,” Jurnal Pendidikan
Kebutuhan Khusus 9, no. 1 (2025): 38–50.
[10] Desak
Made Indah Paramitha Sari, “Analisis Akuntabilitas Dan Transparansi Pengelolaan
Dana Bos Pada Slb Negeri 2 Denpasar,” Jurnal
Akuntansi 11, no. 1 (2022): 103–17.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar